Posted by: ayuambong on: November 7, 2011
Bahkan aku cemburu pada bulu mata yang terjatuh di pipimu. Takhayul kampungan dan aku terlalu picisan mempercayainya -pertanda seseorang merindumu-. Maklum, jalananlah sekolahku bukan kursi-kursi cantik universitas negeri. Aku lebih percaya hati sebagai pertahanan terakhir. Ikhlas itu diam*. Itu sebabnya ibu tak pernah membiarkan anak-anak kelaparan.
*mengutip salah satu kultwit Goenawan Mohammad
Bintaro, 8 November 2011
Posted by: ayuambong on: November 7, 2011
Impianku adalah terbenam di ketiakmu.
Semoga Tuhan tidak sedang cuti untuk mengabulkan ini.
Bintaro, 8 November 2011
Posted by: ayuambong on: October 9, 2011
Pada meriah wajahmu, aku berpesta
Jiwamu menawarkan kemewahan pasar babi, riuh
Geliat subuh sarat doa nenek nenek kita
Memagari aku dan kamu sesederhana pasar ikan
Padat atas derap derap keras
Lalu aku dan kamu bersulang pada selat tak bertuan
Meski sunset hanya ada di kota kita, sayang!
Bintaro, 8 Oktober 2011
Posted by: ayuambong on: May 1, 2011
Sebagai anak langit, aku tahu pasti hatimu telah berumah jauh sebelum kita berpeluk pada samudera sepi. Aku penonton tanpa karcis ketika kalian berpeluk. Alam semestalah rumahku, bukan ruang pada hati manusia. Tangisku lampau pecah terlahir di lepas magrib. Atas janji Tuhan anak lahir menjadi musuh orang orang tua.* Tumbuh liar di atas batu koral. Melihatmu sendiri, adalah kelemahan terkuatku. Jamu pahit, namun menguatkan! Mungkin aku lilin di hidungmu, menyala, meleleh dan mati kepanasan. Mungkin aku ini ibumu, entah reinkarnasi keberapa. Entah. Namun jika aku mati nanti, kuburkanlah aku dalam bubuk kopi terpahit kelak kau minum. Biarkan aku menjadi peluhmu. Karena dahulu di ketiakmulah aku membaui kopi! Bertahan pada senja dan subuh buta sebagai penonton terakhir. Lalu, Tuhan tertawa melihatku tanpa otak. Ah Tuhan, sepanjang umur umatmu menguras otak untuk segala tragedi berulang. Tragedi kosmis Adam dan Hawa. Tanah yang kau janjikan teruntuk para ahli kitab. Lalu anak-anak terlahir tanpa ibu. Maaf hingga kiamat nanti, kami tak mampu mengerti! Betapa mubazir otak pemberianmu! Bukankah kami hanya berhak bersyukur? Ya, Tuhan aku bersyukur dalam bencanaMu! Angkat sekali lagi cangkir kopimu Tuhan! *QS. Al-Munaafiquun : 9 Jakarta, akhir April 2011
Posted by: ayuambong on: March 29, 2011
Meminjam mimpi picisan
pada novel murahan
Otak lacur
Hidup di kotak
Tanpa cerita,
meski hanya sepenggal
takdir tertinggal
Terlahir lacur
Jalang rindu lajang
Semua lahir telanjang
Posted by: ayuambong on: March 22, 2011
Malam adalah harap,
lalu pagi,
lalu sepi,
menguap senyap
Harmoni, 23 April 2011
Posted with WordPress for BlackBerry.
Posted by: ayuambong on: March 13, 2011
Kematian tanpa sajak
Mati suri di atas jejak
anjing geladak.
Ia membadik melindungiku
Tuhan atau bukan
Aku hidup perlahan
tanpa perang di medan
Bukankah karena cinta
Manusia mencipta?
Mungkin karena cinta
Manusia terperangkap cita
Ah, pasti karena cinta
Manusia setia menata
Citayam-Velbak, Maret 2011
Posted with WordPress for BlackBerry.
Posted by: ayuambong on: March 8, 2011
Ah Tuhan,
betapa kamu sangat lelaki
membiarkan perempuan lahir
dalam keadaan terperkosa
bahkan oleh pikirannya sendiri!
Citayam, 8 Maret 2011
Posted by: ayuambong on: February 9, 2011
Bidadari-bidari bermuara,
pada hulu tak tersinggah
Pelangi sudah punah
Di ujung embun,
Aku menggunting hujan biru
membasahi derai-derai marahmu
Itu sebabnya, aku tidur terlambat
dan bangun lebih pagi.
Menjadi pertama dan terakhir
melihat wajahmu
Sebelum dan sesudah kau melesat pada mimpi-mimpi entah siapa.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Posted by: ayuambong on: February 6, 2011
Jangan pernah ada perkabungan karena kita mengawali dengan tawa dan hanya berhak tertawa.
Bukankah hanya kita yang mampu beribadah pada berbotol-botol bir di padang pasir?
Mungkin Tuhan sakit melihat ini tapi bukankah doa tertinggi adalah memintaNya menghapus dosa bukan mengampuni.
Jadi, maaf jika kami tak percaya karma.
Citayam, 7 Feb 2011
Posted with WordPress for BlackBerry.
Recent Comments